MAKALAH MATA AJAR KMB III
(ENSEFALITIS)
oleh :
AHMAD BUSTOMI
AKADEMI KEPERAWATAN ISLAMIC VILLAGE
TANGERANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ENSEFALITIS”.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak menemukan kesulitan dan hambatan, namun berkat adanya bantuan dan bimbingan baik dari segi moril maupun materiil dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyusunan selanjutnya. Harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan para pambaca pada umumnya.
Tangerang, Oktober 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi intrakranial dapat melibatkan jaringan otak (ensefalitis), sumber penyebab dapat berupa dari bakteri, virus atau bahkan jamur (fungi) dan hasilnya atau penyembuhannya dapat komplit atau (sembuh total) dan sampai pada menimbulkan penurunan neurologis dan juga sampai terjadi kematian. Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
1.2 Tujuan
Tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi tugas dari salah satu mata kuliah di Akademi Keperawatan Islamic Village Tangerang, yaitu KMB III. Kemudian daripada itu, makalah ini disusun untuk dapat menjelaskan dan memberi gambaran klinis tentang penyakit Ensefalitis.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Definisi
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. (Rahman M, 1998)
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme. (Purnawan junadi, 1982)
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme.
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam microorganism. Pada ensefalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.
(hasan, 1997).
2.2 Etiologi
Berbagai macam mikroorganisme dapat menyebabkan ensefalitis, misalnya bakteri protozoa, cacing, jamur, spiroxhaeta dan virus. Penyebab terpenting dan paling sering adalah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung ke otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.
Macam-macam ensefalitis virus menurut Robin :
- Infeksi virus yang bersifat epidemik
- Infeksi virus yang bersifat sporadik
- Ensefalitis pasca infeksio, pasca morbili, dan pasca varisela.
Patogenesis
Virus masuk ke tubuh pasien melalui kulit, saluran nafas dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara :
- Setempat virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu
- Penyebaran hematogen primer, yaitu virus masuk ke dalam darah menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
- Penyebaran melalui saraf-saraf, yaitu virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa prodromal berlangsung selama 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas dan pucat, gejala lainnya berupa gelisah, perubahanperilaku, gangguan kesadaran dan kejang.
2.4 Tanda dan gejala ensefalitis
Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. Secara umum,gejala berupa trias ensepalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun, sakit kepala, kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen,dapat terjadi gangguan pendengaran dan penglihatan. (Mansjoer,2000).
Adapun tanda dan gejala ensefalitis sebagai berikut :
1. Suhu yang mendadak naik,seringkali ditemukan hiperpireksia
2. Kesadaran dengan cepat menurun
3. Muntah
4. Kejang- kejang yang dapat bersifat umum, fokal atau twiching saja (kejang-kejang di muka)
5. Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (hassan,1997)
Inti dari sindrom ensefalitis adalah adanya demam akut, demam kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda babinski, gerakan infolunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot wajah. Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang :
Secara klinik dapat di diagnosis dengan menemukan gejala klinik tersebut diatas:
1. Biakan : dari darah : viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk mendapatkan hasil yang positif. Dari likuor atau jaringan otak. Akan dapat gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika.
2. Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen, uji inhibisi henaglutinasi dan uji teutralisasi. Pada pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh, IgM dapat dijumpai pada awal gejala penyakit timbul.
3. Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan leukosit.
4. Pungsi lumbal likuor serebospinalis sering dalam batas normal. Kadang- kadang ditemukan sedikit peningkatan jumlah sel, kadar protein atau glukosa.
5. EEG / Electroencephalography EEG sering menunjukan aktivitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran yang menurun, adanya kejang,koma,tumor,infeksi sistem saraf, bekuan darah, abses, jaringan parut otak, dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola normal irama dan kecepatan. (Smeltzer,2002)
6. CT Scan, pemeriksaan CT Scan otak sering kali di dapat hasil normal, tetapi bisa juga didapat hasil edema diffuse.
2.5 Penatalaksanaan
Obat-obat antikonvulsif untuk memberantas kejang segera diberikan secara intramusuler atau intravena tergantung pada kebutuhan, misalnya luminal atau valium. ‘’Intravenous fluid drip’’ langsung dipasang. Cairan bergantung pada anak
a. Isolasi : isolasi bertujuan untuk mengurangi stimuli atau rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan.
b. Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur obat yang mungkin di anjurkan oleh dokter:
· Ampicilin :200mg/kg BB/24 Jam, dibagi 4 dosis.
· Kemicetin : 100 mg/kg bb/24 jam dibagi 4 dosis.
· Bila ensefalitis disebabkan oleh virus (HSV). Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kg bb per hari, dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan.
c. Mengurangi meningkatnya tekanan intrakranial
d. Mengontrol kejang, obat anti konfulsif diberikan segera untuk memberantas kejang.obat yang diberikan adalah valium dan atau luminal. Dan valium dapat diberikan dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg bb/ kali.
e. Mempertahankan ventilasi, berdasarkan jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan (2-3menit )
f. Mengontrol perubahan suhu lingkungan.
2.6 Komplikasi
Angka kematian untuk ensefalitis ini masih tinggi, berkisar antara 35-50 %, dari pada penderita yangb hidup 20-40 % mempunyai komplikasi atau gejala sisa berupa paralitis. Gangguan penglihatan atau gejala neurologik yang lain. Penderita yang sembuh tanpa kelainan neurologik yang nyata,dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin menderita retardasi mental, gangguan tingkah laku dan epilepsi.
2.7 Penkes
Penatalaksanaan kejang dan demam :
· Memberikan kompres hangat jika klien demam
· Menganjurkan atau memberikan banyak minum saat badan klien panas
BAB III
KONSEP ASKEP
A. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS DIRI KLEN
Nama klien, tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama, bangsa, bahasa, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan,alamat / no telp, tgl masukrmh sakit, no register,dx medis, sumber informasi, tanggal pengkajian.
II. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
a. Alasan masuk : hal yang mendorong klien mencari pertolongan tenaga kesehatan
b. Keluhan utama :
panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari, kejang, kesadaran menurun, Gelisah ,muntah-muntah , sakit kepala.
Dan perkembangan penyakit saat ini dan sekarang (here and now) yang masih dirasakan harus menggambarkan kriteria PQRST.
c. Upaya dan terapi yang telah di lakukan untuk mengatasinya :
III. RIWAYAT KESEHATAN YANG LALU
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
IV. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Genogram tiga generasi, Identifikasi penyakit yang pernah di derita / sedang di derita keluarga, riwayat penyakit keturunan, penyakit ensefalitis yang diderita keluarga.
V. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pola peran berhubungan dengan keluarga baik dan tidak ada masalah.
VI. PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR
A. Nutrisi & Cairan
Pemenuhan Nutrisi Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh. Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh. Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
B. Eliminasi:
Kebiasaan Defekasi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi. Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
C. Istirahat/Tidur
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
D. Personal Higiene
Dapat di temukan berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri dan dapat menimbulkan ketergantungan
E. Pola Aktifitas
a. Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan, karena Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM (range of motion)
Kekuatan otot berkurang karena Ensefalitis dengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi berat,aktifitas turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.
b. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM (range of motion)
Kekuatan otot berkurang karena Ensefalitis dengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi berat,aktifitas turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.
F. Seksualitas
Dapat menyebabkan masalah pada klien dalam berhubungan dengan pasangannya. Dapat terjadi perubahan pola pola seksualitas yang membutuhkan konsultasi/konseling lebih lanjut.
G. Spiritualitas
Dapat terjadi gangguan dalam melaksanakan ibadah rutin yang biasa klien lakukan berhubungan dengan keterbatasan gerak dan nyeri yang dapat mempengaruhi kegiatan ibadah rutin yang biasa di lakukan klien sehari-hari.
H. Sosial
Faktor menderita ensefalitis, dapat menyebabkan kerusakan interaksi social klien dengan keluarga atau orang lain : perubahan peran ; isolasi diri
14. Pemeriksaan fisik
- Tingkat kesadaran : Adanya penurunan tingkat kesadaran.
- GCS : Eye respon: … Motorik respon: … Verbal respon: …
- Keadaan umum : sakit
- Kulit : saat diraba kulit terasa agak panas
- Ttv : terjadi peningkatan sistol tekanan darah, penurunan nadi bradikardia, peningkatan frekuensi pernafasan.
- Kepala : wajah tampak lesu, pucat, sakit kepala, varestesia, terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena, kehilangan sensasi(kerusakan pada asaraf kranial)
- Mata : gangguan pada penglihatan, seperti diplopia, menguji penglihatan, ukuran pupil, reaksi terhadap sinar dan ketidaknormalan pergerakan mata.
- Telinga : ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan
- Hidung : adanya gangguan penciuman
- Mulut dan gigi : membran mukosa kering, lidah terlihat bintik putih dan kotor
- Leher : terjadi kaku kuduk dan terasa lemas
- Dada : adanya riwayat kardiopatologi seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung kongenital
- Abdomen : biasanya klien mual dan muntah
- Genetalia, rectum dan abdomen : tidak ada kelainan
- Eksremitas atas dan bawah : tidak ada kekuatan otot dan teraba dingin
- BB Dan TB : penurunan berat badan akibat penurunan nafsu makan dan tinggi badan di kaji sesuai usia.
15. Pemeriksaan laboratorium
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2. Resiko tinggi perubahan perpusi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang fokal.
4. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
7. Ansietas b/d ancaman kematian/ perubahan dalam status kesehatan.
8. kurang pengetahuan b/d keterbatasan kognitif
Implementasi dan Evaluasi
· Implementasi adalah : tahap ketika perawat menfgaplikasikan rencana asuhan keperawatan kedalambentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan .kemampuan perawat yang harus dimiliki pada tahap implementasi adalah : kemampuan komunikasi yang efektif.kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya yang saling membantu .kemamapuan untuk teknik psikomotor kemampuan melakukan observasi,sistematis kemampuan memberikan pendidikan kesehatan,kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi.
· Implementasi tindakan keperawatan dibedakan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu :independen,interdependen,dan dependen
1. Independen yaitu : suatu kegioatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dari dokter ,tindakan keperawatan independen antara lain :
- Mengkaji klien dan keluarga melwalui pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan
- Merumuskan diagnosis sesuai respon klien
- Mengidentifikasi tindakan keperawatan
- Mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan dan medis.
2. Interdependen yaitu : kegiatan uang memerlukan kerjasama dari tenaga kesehatan lain (mis.ahli gizi,fisioterapi dan dokter)
3. Dependen berhubungan dengan perencanaan tindakan medis / interaksi dari tenaga medis
Hal lain yang tidak kalah penting pada tahap implementasi ini adlah mengevaluasi respon atau hasil daritindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien serta mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan berikut respon atau hasilnya.
· Evaluasi adalah : tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yuang teramati dan tujuan atau criteria hasil akhir yang dibuat pada tahap perencanaan.
Secara umum evaluasi ditunjuk untuk
1. Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan
2. Menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum
3. Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum tercapai.
Evaluasi terbagi atas dua jenis yaitu : evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
1. Evaluasi formatif adalah berfokus pada aktifitas proses keperawatan dan hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan .
2. Evaluasi sumatif adalah : evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan.
Metode yang dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adlah melakukan wawancara pada akhir layanan.menanyakan respon klien dan keluarga terkait layanan keperawatan mengadakan pertemuan pada akhir layanan
Ada 3 kemungkinan hasil evaluasi yang terkait dengan mencapai tujuan keperawatan.
1. Tujuan tercapai jika klien menunjukan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan .
2. Tujuan tercapai sebagian / klian masih dalam proses pencapaian tujuan
3. Tujuan tidak tercapai jika klien hanya menunjukan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan .
Evaluasi akhir yang dapat di capai pada penanganan klien dengan Ensefalitis adalah :
ü Klien tidak mengalami infeksi lebih lanjut
ü Klien mengalami pengurangan tingkat keletihan
ü Klien dapat meningkatkan atau mempertahankan tingkat mobilitas
ü Klien mampu mempertahankan aktivitas perawatan mandiri
ü Klien mengalami perbaikan citra tubuh
ü Tidak terjadi ansietas
ü Klien menunjukan pemahaman tentang informasi yang di berikan
ü Tidak terjadi komplikasi lebih lanjut
DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.
Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Kapita selekta kedokteran edisi 2, jakarta, 1982
Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.
Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Kapita selekta kedokteran edisi 2, jakarta, 1982
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Infeksi intrakranial dapat melibatkan jaringan otak (ensefalitis), sumber penyebab dapat berupa dari bakteri, virus atau bahkan jamur (fungi) dan hasilnya atau penyembuhannya dapat komplit atau (sembuh total) dan sampai pada menimbulkan penurunan neurologis dan juga sampai terjadi kematian.
Saran
Makalah mengenai penyakit Ensefalitis ini banyak sekali kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itu kami mengharapkan saran dari pembaca agar dalam penyusunan selanjutnya mejadi lebih baik.
tenang bagi kawan'' gw yang butuh materi...:)
BalasHapus