Senin, 13 Juni 2011

aktivitas pribadi...

gw lagi pusing saat nie....
karena banyak tugas yang harus gw kerjain...
ga ada yang bisa bantu kecuali diri gw sendiri..!!
smoga semua bisa beres dan mendapatkan hasil yang memuaskan...!
amien....:)

bagi ibu hamil

tekhnik nafas pada ibu hamil

Latihan pernapasan sangat bermanfaat bagi ibu hamil selain untuk mendapatkan oksigen yang maksimal, ndengan berlatih tehnik pernafasan seorang ibu dapat semaiknin siap untuk menghadapi proses persalinan.
Nafas juga merupakan sarana yang paling sederhana agar seorang ibu bisa masuk dalam kondisi relaksasi

Berikut ini disajikan beberapa macam teknik pernapasan

1. Pernapasan Tidur
Oksigen adalah bahan bakar terpenting, tidak saja untuk kinerja otot-otot rahim tetapi juga untuk janin. Itu sebabnya mengapa cara bernapas yang baik sangat penting. Metode relaksasi yang dalam akan membuat Anda bisa mendapatkannya sekaligus membantu suksesnya persalinan.
Pernapasan tidur, yang perlahan dan dalam, adalah teknik pernapasan yang akan Anda gunakan lebih sering pada awal setiap latihan relaksasi. Anda perlu memfokuskan perhatian untuk menguasai teknik ini secepatnya.
Pernapasan tidur akan membantu Anda mencapai relaksasi jika dipraktekkan dengan bantuan rekaman atau dengan pendamping persalinan. Teknik ini juga dipakai untuk relaksasi saat menghadapi kontraksi selama persalinan. Teknik ini membantu menghemat energi selama tahap pertama persalinan sehingga Anda bisa lebih kuat menarik napas pada tahap kedua saat mendorong kepala bayi ke jalan lahir. Untuk membentuk teknik pernapasan yang baik untuk pernapasan tidur, praktekkan latihan ini:
· Berbaringlah dipembaringan atau sofa yang nyaman, gunakan satu atau dua bantal untuk menyanggga kepala dan leher.
· Supaya lebih nyaman, gulung atau lipat bantal di bawah lutut hingga pinggul. Sendi dan lutut sedikit menekuk.
· Biarkan kedua kelopak mata menutup perlahan, jangan dipaksa. Mulut dengan lembut ditutup, dengan bibir hampir bersentuhan.
· Saat menarik napas, tarik napas dari perut sambil menghitung dalam hati ‘masuk-2-3-4’. Rasakan perut mengembang saat menghirup napas lewat hidung.
· Ketika menghembuskan napas, hitung dalam hati ‘keluar-2-3-4-5-6-7-8’. Hembuskan nafas dengan lembut lewat hidung atau mulut
Untuk memeriksa apakah Anda melakukan latihan dengan benar, letakkan tangan kiri di atas perut dan tangan kanan di bagian bawah dada. Saat menghirup napas, rasakan tangan kiri naik seolah perut Anda mengembang seperti balon. Saat menghembuskan napas, tangan kanan seakan tenggelam di dalam rongga yang terbentuk dari bahu dan dada yang rileks.
Bernapaslah dengan rileks, biarkan bahu, siku dan dada semakin lemas memasuki kerangka tubuh dengan setiap tarikan napas. Lepaskan.
2. Pernapasan pelan
Pernapasan pelan merupakan bagian paling penting pada persiapan melahirkan. Pernapasan pelan adalah tarikan napas panjang, tenang, pelan yang langsung memfokuskan Anda pada apa yang terjadi pada bayi dan membantu Anda pada setiap kontraksi. Pernapasan pelan membutuhkan latihan yang sebaiknya dilatih setiap hari. Beberapa menit ketika terbangun di pagi hari dan sebelum tidur di malam hari adalah waktu yang baik untuk belatih.
Ketika pertama melatih pola napas ini, Anda akan tahu bahwa namanya memang sesuai dengan latihannya, yaitu napas yang panjang dan pelan.
Tujuan napas panjang adalah untuk membuat tarikan dan hembusan napas Anda sepanjang mungkin untuk menyesuaikan dengan panjangnya gelombang kontraksi dan untuk membuat dinding perut mengembang sebesar dan setinggi mungkin. Napas ini membantu memaksimalkan efisiensi dari kontraksi. Dengan membuat pengembangan gelombang kontraksi, Anda membantu otot vertikal untuk mendorong naik keatas otot berbentuk melingkar yang terletak di bawah dan membuka mulut rahim.
Cara :
  • Baringkan tubuh dalam posisi terlentang atau miring seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
  • Letakkan tangan di perut bagian paling atas.
  • Hembuskan napas sebentar untuk membersihkan paru-paru dan bagian hidung. Perlahan-lahan sedikit demi sedikit tarik napas dalam hitungan 1-20.
  • Hindari penggunaan napas pendek yang masuk, karena dapat melelahkan dan membuat Anda harus harus menarik napas beberapa kali untuk bisa menyamai panjang gelombang kontraksi. Tarikan napas yang dihitung lebih dari 20 kali dan hembusan napas yang sama pelannya akan membuat Anda cukup waktu untuk mengatasi setiap gelombang kontraksi.
  • Jika Anda memang perlu menarik napas dua kali dalam satu kali kontraksi, lakukan dengan cara yang sama,, jangan pernah menahan napas.
  • Tetap lemaskan badan, jangan tegang, bayangkan perut Anda seolah kawah. Bagian tubuh lain di bawah ‘kawah’ sepenuhnya rileks sementara Anda melakukan pernapasan pada tiap kontraksi.
  • Teknik relaksasi sarung tangan yang akan Anda pelajari nanti adalah teknik yang baik untuk digunakan saat Anda mengalami kontraksi tahap pertama.
  • Sambil menarik napas, fokuskan perhatian pada perut yang mengembang dan membawa gelombang kontraksi ke atas sebisanya; bayangkan sedang mengisi balon saat menarik napas. Perlahan-lahan hembuskan napas dalam hitungan yang sama, bernapaslah ke dalam dan ke luar. Bayangkan balon itu perlahan-lahan melayang ke angkasa. Berikan napas Anda untuk bayi Anda, dengan lembut dan perlahan memasuki vagina.
Bisa jadi, awalnya Anda akan menemukan bahwa napas Anda hanya mencapai
hitungan 13-15. Tidak apa, ini biasa. Anda akan mencapai hitungan yang lebih banyak setelah sering berlatih, dan napas Anda dengan cepat akan meningkat menjadi napas yang dalam dan perlahan. Jangan hiraukan betapa tinggi hitungan yang Anda capai, teknik yang sepenuhnya membesarkan perut akan dapat Anda gunakan ketika memerlukannya di saat persalinan.
Setiap kali terjadi kontraksi, Anda akan merasakan hasil dari latihan Anda, ketika dengan sukses menempuh gelombang kontraksi dengan tarikan napas yang cukup panjang dan hembusan napas yang sama panjangnya. Sebagaimana saat mempelajari teknik pernapasan tidur, Anda tidak perlu lagi menggunakan hitungan jika telah mempelajari tekniknya.
Bayangkan balon berwarna-warni yang indah. Dalam setiap hitungan napas Anda terus menerus mengisi udara di dalam balon, hingga akhirnya balon itu melayang dari pemandangan dalam pikiran Anda dan Anda perlahan kembali menarik napas untuk mempersiapkan balon berikutnya.’
3. Teknik Pernapasan Lanjut
Sekali napas Anda menjadi ritmik dan Anda mampu membawa diri menuju kondisi relaks dengan mudah, Anda dapat memperdalam relaksasi dengan cepat, dengan menggunakan relaksasi lanjut, yang digambarkan berikut ini.
  • Hubungkan setiap bagian tubuh Anda, mulai dari kepala sampai ujung kaki dengan angka bagian tubuh yang berhubungan
  • Akhirnya, Anda akan dapat menarik satu napas yang dalam, memikirkan angkanya saat menghembuskan napas dan membuat bagian tubuh yang berhubungan dengan angka tersebut segera relaks.
  • Semakin cepat Anda memikirkan angkanya, semakin cepat Anda akan merasakan efeknya.
4. Teknik menghilangkan huruf
Teknik ini sangat baik untuk memasuki kondisi relaks secara instan atau memasuki kondisi relaks yang lebih dalam. Barangkali inilah cara yang termudah dibandingkan cara lain yang Anda gunakan.
Teknik :
- Tutup mata
- Tarik napas yang dalam – berhenti
- Dengan cepat dan dengan tenang, katakan pada diri Anda sambil menghembuskan napas: AAA – BBB – CCC – D
- Biarkan bahu dan torso bagian atas tenggelam ke dalam kerangka tubuh.
Dengan latihan, Anda akan menemukan bahwa saat Anda mencapai D pertama, sisa huruf dalam alphabet akan terhapus dari pikiran Anda. Latihan ini adalah salah satu cara tercepat untuk membawa Anda menuju relaksasi yang dalam.

Jumat, 03 Juni 2011

askep ensefalitis

MAKALAH MATA AJAR KMB III
(ENSEFALITIS)












oleh :
AHMAD BUSTOMI






AKADEMI KEPERAWATAN ISLAMIC VILLAGE
TANGERANG
2010
KATA PENGANTAR



            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ENSEFALITIS”.
            Dalam penyusunan makalah ini kami banyak menemukan kesulitan dan hambatan, namun berkat adanya bantuan dan bimbingan baik dari segi moril maupun materiil dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
            Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyusunan selanjutnya. Harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan para pambaca pada umumnya.



Tangerang, Oktober 2010


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Infeksi intrakranial dapat melibatkan jaringan otak (ensefalitis), sumber penyebab dapat berupa dari bakteri, virus atau bahkan jamur (fungi) dan hasilnya atau penyembuhannya dapat komplit atau (sembuh total) dan sampai pada menimbulkan penurunan neurologis dan juga sampai terjadi kematian. Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
 Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.


1.2  Tujuan
Tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi tugas dari salah satu mata kuliah di Akademi Keperawatan Islamic Village Tangerang, yaitu KMB III. Kemudian daripada itu, makalah ini disusun untuk dapat menjelaskan dan memberi gambaran klinis tentang penyakit Ensefalitis.











BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
(Rahman M, 1998)

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme. (Purnawan junadi, 1982)

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme.
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam microorganism. Pada ensefalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.
 (hasan, 1997).


2.2 Etiologi
Berbagai macam mikroorganisme dapat menyebabkan ensefalitis, misalnya bakteri protozoa, cacing, jamur, spiroxhaeta dan virus. Penyebab terpenting dan paling sering adalah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung ke otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.
Macam-macam ensefalitis virus menurut Robin :
  • Infeksi virus yang bersifat epidemik
  • Infeksi virus yang bersifat sporadik
  • Ensefalitis pasca infeksio, pasca morbili, dan pasca varisela.


 
Patogenesis
Virus masuk ke tubuh pasien melalui kulit, saluran nafas dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara :
  • Setempat virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu
  • Penyebaran hematogen primer, yaitu virus masuk ke dalam darah menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
  • Penyebaran melalui saraf-saraf, yaitu virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa prodromal berlangsung selama 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas dan pucat, gejala lainnya berupa gelisah, perubahanperilaku, gangguan kesadaran dan kejang.

2.4 Tanda dan gejala ensefalitis
Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. Secara umum,gejala berupa trias ensepalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun, sakit kepala, kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen,dapat terjadi gangguan pendengaran dan penglihatan. (Mansjoer,2000).

Adapun tanda dan gejala ensefalitis sebagai berikut :
1.      Suhu yang mendadak naik,seringkali ditemukan hiperpireksia
2.      Kesadaran dengan cepat menurun
3.      Muntah
4.      Kejang- kejang yang dapat bersifat umum, fokal atau twiching saja (kejang-kejang di muka)
5.      Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (hassan,1997)
Inti dari sindrom ensefalitis adalah adanya demam akut, demam kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda babinski, gerakan infolunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot wajah. Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang :
Secara klinik dapat di diagnosis dengan menemukan gejala klinik tersebut diatas:
1.      Biakan : dari darah : viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk mendapatkan hasil yang positif. Dari likuor atau jaringan otak. Akan dapat gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika.
2.      Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen, uji inhibisi henaglutinasi dan uji teutralisasi. Pada pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh, IgM dapat dijumpai pada awal gejala penyakit timbul.
3.      Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan leukosit.
4.      Pungsi lumbal likuor serebospinalis sering dalam batas normal. Kadang- kadang ditemukan sedikit peningkatan jumlah sel, kadar protein atau glukosa.
5.      EEG / Electroencephalography EEG sering menunjukan aktivitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran yang menurun, adanya kejang,koma,tumor,infeksi sistem saraf, bekuan darah, abses, jaringan parut otak, dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola normal irama dan kecepatan. (Smeltzer,2002)
6.      CT Scan, pemeriksaan CT Scan otak sering kali di dapat hasil normal, tetapi bisa juga didapat hasil edema diffuse.

2.5 Penatalaksanaan
Obat-obat antikonvulsif untuk memberantas kejang segera diberikan secara intramusuler atau intravena tergantung pada kebutuhan, misalnya luminal atau valium. ‘’Intravenous fluid drip’’ langsung dipasang. Cairan bergantung pada anak
a.      Isolasi : isolasi bertujuan untuk mengurangi stimuli atau rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan.
b.      Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur obat yang mungkin di anjurkan oleh dokter:
·         Ampicilin :200mg/kg BB/24 Jam, dibagi 4 dosis.
·         Kemicetin : 100 mg/kg bb/24 jam dibagi 4 dosis.
·         Bila ensefalitis disebabkan oleh virus (HSV). Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kg bb per hari, dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan.
c.       Mengurangi meningkatnya tekanan intrakranial
d.      Mengontrol kejang, obat anti konfulsif diberikan segera untuk memberantas kejang.obat yang diberikan adalah valium dan atau luminal. Dan valium dapat diberikan dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg bb/ kali.
e.      Mempertahankan ventilasi, berdasarkan jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan (2-3menit )
f.        Mengontrol perubahan suhu lingkungan.


2.6 Komplikasi
Angka kematian untuk ensefalitis ini masih tinggi, berkisar antara 35-50 %, dari pada penderita yangb hidup 20-40 % mempunyai komplikasi atau gejala sisa berupa paralitis. Gangguan penglihatan atau gejala neurologik yang lain. Penderita yang sembuh tanpa kelainan neurologik yang nyata,dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin menderita retardasi mental, gangguan tingkah laku dan epilepsi.


2.7 Penkes
Penatalaksanaan kejang dan demam :
·         Memberikan kompres hangat jika klien demam
·         Menganjurkan atau memberikan banyak minum saat badan klien panas









BAB III
KONSEP ASKEP


A. PENGKAJIAN
I.     IDENTITAS DIRI KLEN
Nama klien, tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama, bangsa, bahasa, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan,alamat / no telp, tgl masukrmh sakit, no register,dx medis, sumber informasi, tanggal pengkajian.

II.   RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
a.   Alasan masuk : hal yang mendorong klien mencari pertolongan tenaga kesehatan
b.   Keluhan utama :
panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari, kejang, kesadaran menurun, Gelisah ,muntah-muntah , sakit kepala.
Dan perkembangan penyakit saat ini dan sekarang (here and now) yang masih dirasakan harus menggambarkan kriteria PQRST.
c.    Upaya dan terapi yang telah di lakukan untuk mengatasinya :

III. RIWAYAT KESEHATAN YANG LALU
     Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
IV.  RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
     Genogram tiga generasi, Identifikasi penyakit yang pernah di derita / sedang di derita keluarga, riwayat penyakit keturunan, penyakit ensefalitis yang diderita keluarga.

V.   RIWAYAT PSIKOSOSIAL
     Pola peran berhubungan dengan keluarga baik dan tidak ada masalah.

VI. PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR

A.   Nutrisi & Cairan
Pemenuhan Nutrisi Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh. Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
B. Eliminasi:
Kebiasaan Defekasi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi. Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
C. Istirahat/Tidur
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
D.   Personal Higiene
Dapat di temukan berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri dan dapat menimbulkan ketergantungan
E.    Pola Aktifitas
a. Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan, karena Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b. Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM (range of motion)
Kekuatan otot berkurang karena Ensefalitis dengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi berat,aktifitas turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.

F.    Seksualitas
Dapat menyebabkan masalah pada klien dalam berhubungan dengan pasangannya. Dapat terjadi perubahan pola pola seksualitas yang membutuhkan konsultasi/konseling lebih lanjut.
G.   Spiritualitas
Dapat terjadi gangguan dalam melaksanakan ibadah rutin yang biasa klien lakukan berhubungan dengan keterbatasan gerak dan nyeri yang dapat mempengaruhi kegiatan  ibadah rutin yang biasa di lakukan klien sehari-hari.
H.   Sosial
Faktor menderita ensefalitis, dapat menyebabkan kerusakan interaksi social klien dengan keluarga atau orang lain : perubahan peran ; isolasi diri



14. Pemeriksaan fisik
  • Tingkat kesadaran      : Adanya penurunan tingkat kesadaran.
  • GCS                              : Eye respon: … Motorik respon: … Verbal respon: …
  • Keadaan umum           : sakit
  • Kulit                             : saat diraba kulit terasa agak panas
  • Ttv                               : terjadi peningkatan sistol tekanan darah, penurunan nadi bradikardia, peningkatan frekuensi pernafasan.
  • Kepala                         : wajah tampak lesu, pucat, sakit kepala, varestesia, terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena, kehilangan sensasi(kerusakan pada asaraf kranial)
  • Mata                           : gangguan pada penglihatan, seperti diplopia, menguji penglihatan, ukuran pupil, reaksi terhadap sinar dan ketidaknormalan pergerakan mata.
  • Telinga                        : ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan
  • Hidung             : adanya gangguan penciuman
  • Mulut dan gigi                        : membran mukosa kering, lidah terlihat bintik putih dan kotor
  • Leher                           : terjadi kaku kuduk dan terasa lemas
  • Dada                            : adanya riwayat kardiopatologi seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung kongenital
  • Abdomen                     : biasanya klien mual dan muntah
  • Genetalia, rectum dan abdomen       : tidak ada kelainan
  • Eksremitas atas dan bawah                : tidak ada kekuatan otot dan teraba dingin
  • BB Dan TB                   : penurunan berat badan akibat penurunan nafsu makan dan tinggi badan di kaji sesuai usia.




15. Pemeriksaan laboratorium
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.

Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2. Resiko tinggi perubahan p
erpusi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang
fokal.
4. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
7. Ansietas b/d ancaman kematian/ perubahan dalam status kesehatan.
8. kurang pengetahuan b/d keterbatasan kognitif









Implementasi dan Evaluasi
·         Implementasi adalah : tahap ketika perawat menfgaplikasikan rencana asuhan keperawatan kedalambentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan .kemampuan perawat yang harus dimiliki pada tahap implementasi adalah : kemampuan komunikasi yang efektif.kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya yang saling membantu .kemamapuan untuk teknik psikomotor kemampuan melakukan observasi,sistematis kemampuan memberikan pendidikan kesehatan,kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi.
·         Implementasi tindakan keperawatan dibedakan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu :independen,interdependen,dan dependen
1.      Independen yaitu : suatu kegioatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dari dokter ,tindakan keperawatan independen antara lain :
-          Mengkaji klien dan keluarga melwalui pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan
-          Merumuskan diagnosis sesuai respon klien
-          Mengidentifikasi tindakan keperawatan
-          Mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan dan medis.
2.      Interdependen yaitu : kegiatan uang memerlukan kerjasama dari tenaga kesehatan lain (mis.ahli gizi,fisioterapi dan dokter)
3.      Dependen berhubungan dengan perencanaan tindakan medis / interaksi dari tenaga medis
Hal lain yang tidak kalah penting pada tahap implementasi ini adlah mengevaluasi respon atau hasil daritindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien serta mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan berikut respon atau hasilnya.





·      Evaluasi adalah : tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yuang teramati dan tujuan atau criteria hasil akhir yang dibuat pada tahap perencanaan.
Secara umum evaluasi ditunjuk untuk
1.      Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan
2.      Menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum
3.      Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum tercapai.
Evaluasi terbagi atas dua jenis yaitu : evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
1.      Evaluasi formatif adalah berfokus pada aktifitas proses keperawatan dan hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan .
2.      Evaluasi sumatif adalah : evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan.
Metode yang dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adlah melakukan wawancara pada akhir layanan.menanyakan respon klien dan keluarga terkait layanan keperawatan mengadakan pertemuan pada akhir layanan
Ada 3 kemungkinan hasil evaluasi yang terkait dengan mencapai tujuan keperawatan.
1.      Tujuan tercapai jika klien menunjukan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan .
2.      Tujuan tercapai sebagian / klian masih dalam proses pencapaian tujuan
3.      Tujuan tidak tercapai jika klien hanya menunjukan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan .



Evaluasi akhir yang dapat di capai pada penanganan klien dengan Ensefalitis adalah :
ü  Klien tidak mengalami infeksi lebih lanjut
ü  Klien mengalami pengurangan tingkat keletihan
ü  Klien dapat meningkatkan atau mempertahankan tingkat mobilitas
ü  Klien mampu mempertahankan aktivitas perawatan mandiri
ü  Klien mengalami perbaikan citra tubuh
ü  Tidak terjadi ansietas
ü  Klien menunjukan pemahaman tentang informasi yang di berikan
ü  Tidak terjadi komplikasi lebih lanjut

















DAFTAR PUSTAKA

Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.

Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.

Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.

Kapita selekta kedokteran edisi 2, jakarta, 1982











                                    








BAB IV
PENUTUP



Kesimpulan

Infeksi intrakranial dapat melibatkan jaringan otak (ensefalitis), sumber penyebab dapat berupa dari bakteri, virus atau bahkan jamur (fungi) dan hasilnya atau penyembuhannya dapat komplit atau (sembuh total) dan sampai pada menimbulkan penurunan neurologis dan juga sampai terjadi kematian.


Saran

            Makalah mengenai penyakit Ensefalitis ini banyak sekali kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itu kami mengharapkan saran dari pembaca agar dalam penyusunan selanjutnya mejadi lebih baik.